Kamis, 06 Oktober 2011

MUDAH MEMAHAMI PEMBAGIAN KHABAR

خَــبَر (2)

KHABAR (2)

Sahabat netter yang baik, setelah kita membahas khabar bag.(1) tentang definisi khabar mari kita memahami lebih lanjut tentang pembagian khabar.

Khabar terbagi kepada dua bagian yaitu :

1. Khabar mufrod

Khabar mufrod adalah khabar yang berupa kata bukan berupa jumlah / kalimat (jumlah ismiyah / jumlah fi’liyah) dan juga bukan berupa sibhu jumlah ( jar majrur dan dzorof )

Mari kita lihat contoh berikut :

1. فَاطِمَةٌ طَالِبَةٌ (Fatimah seorang murid)

2. عُثْمَانُ اُسْتَاذٌ (Usman seorang Guru)

3. هَذَا كِتَابٌ (ini buku)

Penjelasan :

Kata yang bergaris bawah pada contoh 1 (طَالِبَةٌ), 2 (اُسْتَاذٌ) dan 3 (كِتَابٌ) kedudukannya sebagai khabar (predikat) dan bentuknya berupa kata bukan berbentuk jumlah fi’liyah (fi’il +fail), bukan berbentuk jumlah ismiyah (mubtada + khabar) bukan jar majrur ataupun dzorof. jenis khabar pada contoh 1, 2 dan 3 adalah khabar mufrod.

2. Khabar ghair mufrod, yaitu khabar yang berupa jumlah (kalimat) atau sibhu jumlah (yang menyerupai jumlah). Yang termasuk pada khabar ghair mufrod adalah

a. Khabar jumlah ismiyah

Khabar jumlah ismiyah adalah khabar yang di susun dari mubtada dan khabar. Mari kita lihat contoh berikut :

4. الْكِتَابُ لَوْنُهُ اَبْيَضُ (buku itu warnanya putih)

5. النّجَاحُ اَسَاسُهُ جِدٍُّ (kesuksesan itu dasarnya adalah kesungguhan)

6. اَحْمَدُ عِلْمُهُ وَاسِعٌ (ahmad ilmunya luas)

Penjelasan :

Khabar jumlah ismiyah adalah khabar yang tersusun dari mubtada dan khabar.

Terlebih dahulu perlu kita pahami bahwa kata yang bergaris bawah pada contoh 4 (لَوْنُهُ اَبْيَضُ) 5 (اَسَاسُهُ اَلْجِدٍُّ)6, (عِلْمُهُ وَاسِعٌ)tersusun daripada mubtada dan khabar.

(لَوْنُهُ اَبْيَضُ) (warna buku itu putih) kata لوْنُهُmenjadi mubtada dan kata اَبْيَضُ sebagai khabar

اَسَاسُهُ جِدٍُّ (dasar kesuksesan adalah kesungguhan) kata اَسَاسُهُ menjadi mubtada dan kata جِدٍُّ sebagai khabar

عِلْمُهُ وَاسِعٌ (ilmu ahmad itu luas) kata عِلْمُهُ menjadi mubtada dan kata وَاسِعٌ menjadi khabar.

Dari penjelasan di atas bisa kita pahami bahwa kata yang bergaris bawah pada contoh 4 (لَوْنُهُ اَبْيَضُ) 5 (اَسَاسُهُ اَلْجِدٍُّ)6, (عِلْمُهُ وَاسِعٌ) adalah termasuk kepada jenis khabar jumlah ismiyah karena tersusun daripada mubtada dan khabar.

b. Khabar jumlah fi’iliyah

Khabar jumlah fi’liyah adalah khabar yang disusun dari fi’il dan fail. Mari kita lihat contoh berikut :

7. اَحْمَدُ يَكْتُبُ الرِّسَالَةَ (Ahmad menulis surat)

8. حَمِيْدَ يَذْهَبُ اِلَى الْمَدْرَسَة (hamid pergi ke sekolah

9. سَعِيْدَةٌ تَقْرَأُ الْقُرْاَنَ (saidah sedang membaca qur’an)

Penjelasan :

Kata yang bergaris bawah pada contoh 7 (يَكْتُبُ), 8 (يَذْهَبُ), 9 (تَقْرَأُ) adalah khabar berbentuk fi’il dan fa’ilnya adalah isim dhomir. يَذْهَبُ يَكْتُبُ fa’ilnya adalah isim dhamir هُوَ, dan تَقْرَأُ fa’ilnya adalah isim dhamir هي. Karena khabarnya di buat dari fi’il maka khabar pada contoh 7, 8, dan 9 adalah khabar jumlah fi’liyah.

c. Khabar jar majrur

Sebelum memahami tentang khabar jar majrur terlebih dahulu kita bahas

Apa yang dimaksud huruf jar dan majrur. Huruf jar adalah huruf yang menyebabkan kata yang ditempelinya menjadi jar (kasroh). Yang termasuk pada huruf jar adalah……….

مِنْ، اِلىَ، عَنْ، عَلَى، فِي، رُبَّ، ب،ك،ل

Contoh kata الله boleh dibaca fatah, dhomah, kasroh tapi setelah ditempeli huruf jar maka bacanya wajib kasroh مِنَ اللهِ، بِاللهِ عَلَى اللهِ

Sedangkan majrur adalah kata yang ditempeli huruf jar dan harus dibaca jar (kasroh). Jadi kata مِنَ اللهِ, مِن adalah huruf jar dan kata اللهِ adalah majrur.

Kita kembali pada pembahasan khabar jar majrur

Khabar jar majrur adalah khabar yang tersusun dari haraf jar dan majrur.perhatikan contoh berikut :

10. الْحَمْدُ للهِ (segala puji miliki Allah)

11. الكتاَبُ عَلَى الْمَكْتَبِ (buku di atas meja)

12. النَّظَافَةُ مِنَ الاِيْمَانِ (kebersihan sebagian daripada iman)

Dari pemahaman di atas bisa kita pahami bahwa kata yang bergaris bawah pada 10 للَّــهِ , 11. عَلَى الْمَكْتَبِ 15. مِنَ الاِيْمَنِ termasuk kepada khabar jar majrur karena tiga contoh yang digaris bawah tersebut tersusun daripada huruf jar dan majrur

d. Khabar dzorof

Khabar dzorof adalah khabar yang terbuat daripada dzorof.

Apa itu dzorof ? dzorof adalah kata yang menunjukan pada tempat atau pada waktu. Yang menunjukan pada tempat contoh اَمَامَ (didepan), فَوْقَ (diatas) dan وَرَاء (dibelakang).

Untuk lebih memahami tentang jenis khabar dzorof mari kita perhatikan contoh berikut :

13. المِصبَاحُ فَوْقَ الْمِنْضَدَة (lampu di atas meja)

14. السَّبُوْرَةُ أَمَامَ الفَصْلِ (papan tulis didepan kelas)

15. الْحَدِيْقَةُ وَرَاءَ الْفَصْلِ (kebun di belakang kelas)

Penjelasan :

dari pemahaman di atas bisa kita pahami bahwa kata yang bergaris bawah pada contoh 13 فَوْقَ , 14, أَمَامَ dan 15 وَرَاءَ termasuk kepada khabar dzorof karena tiga kata tersebut menunjukan pada tempat

silahkan download file ini disini

Kamis, 08 September 2011

DEFINISI KHABAR

اَلْخَــبَرُ

(khabar)

Sahabat netter mari kita perhatikan kata yang DIGARIS BAWAHI DAN DICETAK TEBAL pada kalimat berikut :

1. اَحْمَد اُسْتَاذٌ (Ahmad seorang Guru)

2. اللَّـهُ سَمِيْــعٌ ( Alloh itu Mendengar)

3. التِلْمِيْذُ فِي الْفَصْلِ (Murid di dalam kelas)

4. الْحَمْدُ لِلَّـهِ (Segala puji Milik Alloh)

5. عُثْمَانُ يَقْرَأُ القُرْانَ (Usman sedang membaca Al Quran)

6. عبْدُ الله يَمْسَحُ السَّبُوْرَةَ (Abdullah menghapus papan tulis)

Setelah kita membaca secara seksama kalimat di atas bisa kita pahami bahwa :

Kata اُسْتَاذٌ dalam kalimat pertama menjelaskan / menerangkan bahwa Ahmad adalah seorang guru

Kata سَمِيْعٌ dalam kalimat kedua menjelaskan / menerangkan bahwa Allah itu mendengar

Kata فِى الْفَصْلِ dalam kalimat ketiga menjelaskan / menerangkan bahwa Murid berada di dalam kelas

Kata للهِ dalam kalimat ke empat menjelaskan/menerangkan bahwa segala puji Milik Allah

Kata يَقْرَاُ dalam kalimat ke lima menjelaskan/menerangkan bahwa Usman sedang membaca (Al Quran)

Kata يَمْسَحُ dalam kalimat ke enam menjelaskan/menerangkan bahwa Abdullah sedang menghapus (papan tulis)

Dari penjelasan di atas bisa dipahami bahwa kata yang bergaris bawah (khabar/predikat) menjelaskan/ menerangkan kata sebelumnya (mubtada / subjek)

Jadi bisa kita simpulkan bahwa :



Khabar (predikat) adalah kata yang menjelaskan / menerangkan

/menyempurnakan mubtada (subjek)

Senin, 04 April 2011

CARA MUDAH MENENTUKAN FI'IL

CARA MUDAH MENENTUKAN FI’IL

Cara mudah menentukan fi’il adalah dengan mengenali tanda-tandanya, yaitu :

1. قَدْ (qod) kata yang terletak setelah kata قَدْ adalah fi’il (kata kerja) contoh :

- قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْن kata أَفْلَحَ adalah fi’il (kata kerja) dengan tanda terletak setelah kata قَدْ

- قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ kata قَامَت adalah fi’il (kata kerja) dengan tanda terletak setelah kata قَدْ

2. س (huruf sin) huruf ini menjadi tanda untuk fi’il (kata kerja) contoh :

سَيَقُوْلُ السُّفَهَاء \ سَيَنْصُرُ kata yang terletak setelah huruf sin seperti pada kata يقُوْلُ يَنْصُرُ adalah fi’il.

3. سَوْفَ (saufa) kata yang terletak setelah kata سَوْفَ adalah fi’il. Contoh

سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ kata تَعْلَمُوْنَ adalah fi’il dengan tanda terletak setelah kata سَوْفَ

4. تْ (تَاء تَأنِيْث السَّاكِنَة ( Ta Tanis Assakinah (Ta berharkat sukun yang menunjukan pada perempuan). Tanda fi’il yang keempat ini banyak sekali ditemukan dalam al-Quran.

Contoh : تَبَّتْ يَدَا ابِى لَهَبٍ، وَقَالَتْ طَائِفَةٌ kata تَبَّتْ dan قَالَتْ adalah fi’il dengan tanda Ta’ tanis yang sukun.

5. jika tanda di atas tidak ditemukan lihat arti katanya bisa dengan menggunakan kamus Bahasa arab. Contoh : الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ pada dua kata yang digaris bawahi tidak ditemukan 4 tanda yang disebutkan di atas. Tapi dengan mengetahui maknanya kita bisa mengetahui bahwa dua kata tersebut di atas adalah fi’il (kata kerja). يُؤْمِنُوْنَ artinya beriman dan kata يُقِيْمُوْنَ artinya mendirikan

6. Menghapal / Sering membaca bentuk-bentuk fi’il (Tasrifan fi’il)

Menghapal atau sering membaca bentuk-bentuk fi’il dalam tasripan fi’il akan sangat membantu kita dalam menentukan fi’il. Dengan hapal atau sering membaca bentuk-bentuk fi’il dengan sendirinya kita mengetahui bentuk-bentuk fi’il walaupun tidak ada 4 tanda diatas dan kita tidak mengetahui maknanya. (insya Allah pembahasan lebih lanjut dalam kajian ilmu sharaf)